POLITIK HURU-HARA MEI 1998

Posted: June 11, 2011 in Uncategorized

Geliat Menuju Kemelut
Huru-hara Mei 1998 merupakan peristiwa bersejarah yang membawa bangsa Indonesia pada babak baru perjalanan bangsa. Peristiwa ini tidak bisa dipisahkan dari rangkaian krisis moneter yang telah berlangsung sejak Juli 1997 yang melanda Thailand dan menyebar ke beberapa negara lain termasuk Indonesia dan Korea Selatan. Disertai lengsernya Soeharto ahnya selang dua bulan setelah dilantik dan harus digantika wakilnya BJ Habibie pada Mei 1998 eskalasi pada bulan itu meningkat karena di picu secara khusus oleh tekanan IMF pada pemerintah Indonesia untuk menaikan BBM pada tanggal 4, malam sebelum pengumuman itu Jakarta lumpuh antrean panjang di pom bensin menyebabkan kemacetan kemudian setelah naiknya harga BBm disusuk pula kenaikan harga bahan pokok lain rakyat yang berusaha bertahan semakin tercekik oleh karena kebijakan ini.
Saat itu demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang telah dimulai sejak Februari 1998, semakin marak dan berani dengan tuntutan harga-harga diturunkan dan agenda reformasi dilaksanakan. Momentum kerusuhan terjadi ketika empat mahasiswa meninggal ditembak aparat polisi pada demoonstrasi 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti, kemarahan massa memuncak pada 13, 14, 15 Mei 1998 dengan meletusnya kerusuhan massa di Jakarta dan kota-kota lain. Setelah kerusuhan, demonstrasi tak berhenti, gedung DPR diduduki dan dikuasai oleh mahasiswa.
Di level politik yang lebih tinggi, sejumlah mentri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri dan dua fraksi penting di DPR, fraksi Karya Pembangunan yang merupakan partai penguasa dan fraksi ABRI meminta presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. DPR yang dua bulan sebelumnya mendukung Soeharto secara aklamasi, secara resmi juga mendukung tuntutan pengunduran diri presiden. Sehari kemudian menteri luar negeri Amerika juga menyatakan sudah waktunya bagi Presiden Soeharto untuk pergi. Setelah berkuasa 32 tahun ditopang dengan kekuata militer dan partai berkuasa Golkar akhirnya presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.
Sejak IMF terlibat menangani krisis moneter Indonesia mulai 31 Oktober 1997, terjadi krisis lebih dalam dan kompleks. Keberadaan IMF di Indonesia membawa efek negatif dalam penyelesaian krisis ekonomi dan cenderung memperperah krisis. Alasanya pertama kebijakan IMF dalam LoI cenderung inkonsisten tidak mempertimbangkan keadaan sosial pilotik Indonesia. Kedua pola penanganan krisis yang dipakai IMF di Indonesia telah gagal memulihkan ekonomi di Indonesia. Ketiga apa yang diberika IMF bantuan berupa utang, menjadi jebakan agar Indonesia tetap bergantung pada institusi ini untuk waktu yang lama. Dengan instrumen utang IMF dapat mengendalikan ekonomi bahkan politik Indonesia.
Rivalitas Wiranto dan Prabowo, sebagian pengamat menganalisa bahwa konflik yang terjadi antara Wiranto dan Prabowo sengaja diciptakan Soeharto agar terjadi keseimbangan sehinggan tak terlalu ada yang dominan. Rivalitas Wiranto dan Prabowo menjadi pembicaraan kalangan elit khususnya kalangan elit tentara sejak 1998. Selain isu ABRI Hijau dan ABRI Merah Putih yang sejak beberapa tahun dihembuskan kelompok-kelompok yang tak suka hubungan baik ABRI dan umat Islam. Kedua perbedaan-perbedaan pendapat dan langkah khususnya tentang pembinaan dan penguatan Kopassus.
Insident Trisakti Selasa, 12 Mei 1998
Jatuhnya Martir oleh aksi-aksi mahasiswa yang bergulir sejak awal 1998 semakin marak dan menular ke banyak kampus di seluruh Indonesia. Aksi-aksi itu umumnya menuntut pelaksanaan reformasi di segala bidang, termasuk reformasi politik. Aksi mahasiswa sepanjang Mei menemui momentumnya pada tanggal 12 Mei 1998 di kampus Universitas Trisakti. Peristiwa yang merenggut empat nyawa mahasiswa Trisakti akkibat tembakan peluru tajam oleh aparat kepolisian. Selain dikejar, diinjak dan ditendang oleh aparat keamanan, korban yang paling banyak berjatuhan adalah korban karena tembakan. Malam itu Jakarta diselimuti suasana mencekam, jumlah korban tewas yang beredar adalah enam orang.

Reaksi para Elit, para elit terkejut mengapa bisa terjadi penembakan. Presiden terlanjur yakin akan keadaan apalagi elit keamanan adalah orang-orang dekatnya, pada peristiwa itu terjadi beliau sedang ada di Kairo Mesir untuk menhadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15. Tak ada dugaan akan terjadi peristiwa besar seperti kerusuhan atau kudeta tentara, karena pada saat-saat itu aksi dan demo adalah hal yang sering terjadi dan menjadi kegiatan rutin dengan keadaan seperti itu Soeharto berangkat ke Kairo Mesir dengan percaya diri.
Siapa Bertanggung Jawab?
Pertanyaan itu mengundnag misteri dan kontrofersi selanjutnya siapa yang memerintahkan penembakan. Jawaban dari pertanyaan itu dapat menguak berbagai peristiwa yang menyusul kemudian sebagai konsekuensi atas lahirnya momentum perlawanan terhadap rezim yang berkuasa telah lama. Tidak dapat dipungkiri bahwa insiden Trisakti telah menjadi faktor pemecah huru-hara 13-15 Mei 1998 yang diikuti krisis tingkat elit dan mundurnya presiden Soeharto. Mungkin bila tidak terjadi penembakan mahasiswa Trisakti, kondisi Mei 1998 akan terkendali.
Ada dua teori tentang tragedi penembakan Trisakti. Pertama pelakunya adalah anggota Polri yang tidak disiplin kemudian menembak membabi buta menembaki mahasiswa. Kebrutalan polisi ini merupakan puncak peristiwa bentrokan antara mahasiswa dan polisi sejakdua bulan sebelumnya yang berujung pada meninggalnya anggota sorang polisi tanggal 9 Mei 1998 di Bogor. Teori kedua adalah adanya penembak jitu (sniper)atau penembak liar yang bukan anggota Polri yang memang mendesain terjadinya insiden ini. Teori kedua ini didukung rumor dan analisis kebanyakan pengamat asing yang sejak awal tidak menyukai tentara.
Saking pentingnya pengungkapan kasus penembakan mahasiswa Trisakti ini, terutama mengungkap siapa pelaku penembakan yang bermuara pada siapa yang harus bertanggung jawab, wajar jika penanganan kasus ini tidak semulus yang diharapkan. Namun satu hal pasti berlrut-larutnya proses ini tidak bisa lepas dari sikap tidak tegas Pangab Wiranto yang ketika itu membawahi institusi Polri. Sikap Wiaranto jelas membuat proses penyelesaian Trisakti semakin kabur dan terkatung-katung.
Tanggung jawab Wiranto tarik ulur uji balistik sebenarnya tidak perlu terjadi jika Jenderal Wiranto sebagai Pangab waktu itu bertindak tegas untuk mengusut siapa pelaku penembakan dan siapayang harus bertanggung jawab. Sering kali pada proses penanganan kasus Trisakti mendapat hanbatan dari pihak Polri “ada kesan pihak Polri menutup-nututupi kesalahan”, kata Sjamsu. Ia juga mengatakan tidak tuntasnya kasus Trisakti adalah tanggung jawab Dibyo Widodo yang ketika itu menjabat Kapolri. Sebenarnya Sjamsu telah meminta Wiranto untuk menyuruh kapolri Dibyo untuk menyerahkan anggotanya yang diduga penembak, namun sampai sebulan kemuidan hal ini tak berjalan lancar jua, meski berulang-ulang kali Sjamsu meminta Wiranto untuk mengusut kasus ini namun hasilnya ada kesan mengulur-ulur hingga Kapolri di ganti pada 3 Jli 1998 tetap tidak menyerahkannya juga. Wiranto justru menyalahkan kenapa demonstrasi keluar dan menolak dirinya bertanggung jawab, kalaupun bertanggung jawab ia hanya bertanggung jawab sebatas kebijakan, seddang masalah operasional dan teknisnya bukan tanggung jawabnya.
Prabowo sebagi korban lamanya proses pengunkapan penembak mahasiswa Trisakti telah menghamburkan fakta-fakta dan membiarkan rumor gosip dan fitnah meraja lela. Koraban utama dari lambannya proses pengusutan ini adalah Letjen TNI Prabowo Subianto, salah satu “rival” Wiranto di ABRI. Dalam proses itu Prabowo telah menjadi bulan-bulanan sasaran fitnah dan hujatan berbagai kelompok termasuk mahasiswa, para pengamat dan intelektual yang didukung oleh pers dalam dan luar negeri. Selama bertahun-tahunitu, Prabowo sempat dianggap sbagai orang yang bertanggung jawab di belakang kasus Trisakti.
Ada tiga teori atau skenario yang nenyudutkan posisi Prabowo ketika itu. Pertama , teori konspirasi yang lahir dan berkembang dari rivalitas Prabowo dan Wiranto. Pada saat itu Letjen TNI Prabowo yang pada saaat insiden Trisakti menjabat Pangkostrad ingin mengalahkan seniornya Panglima ABRI Wiranto.
Kedua yang diarahkan ke Prabowo adalah adanya penembak jitu (sniper). Dalam skenario ini Prabowo dituduh memerintahkan Kopassus untuk menembak mahasiswa dari atap tertinggi gedung-gedung di sekitar Universitas Trisakti.
Ketiga adalah penembaka Trisakti dilakukan oleh Tentara. Marzuki Darusman dengan yakin mengatakan ada saksi-saksi yang melihat bahwa Kopassus yang berasda di belakang penembakan. ternyata yang dimaksud saksi-saksi antara lain adalah seorang anggota Ppolri bernama Anneke Wacano.
Huru-Hara Mei 1998
Genderang kerusuhan rabu 13 Mei 1998 merupakan hari berkabung atas gugurnya mahasiswa Trisakti. Mulai peristiwa otu genderang kerusuhan mulai memanas pada hari itu aksi mimbar bebas semakin banyak massa yang daatang dari luar hal ini karena UI juga meliburkan mahasiswanya hingga batas yang belum ditentukan, semakin siang massa semakin tak terkendali. Sebagian massa mencegat kendaraan bermotor kemudian membakarnya, massa berjalan ke barat dengan tujuan citraland sebaagai sasaran pengrusakan, namun sasaran tersebut sudah dijaga ketat oleh marinir dan aparat lain. Kemudian disusuloleh kerusuhan, pengrusakan dan pejaarahan di daerah lain.
Puncak huru-hara kamis 14 Mei 1998, massa kembali ke jalan. Kerumunan yang semula sepi menjadi semakin membesar dan tak terkendali. Toko-toko dan pusat perbelanjaan mulai dijarah disana-sini api berkobar, hari itu kota jakata seperti kota tanpa hukum. Massa keluar dari gang-gang , perkampungan dan pemukiman padat mereka semuanya tumpah ruah turun ke jalan larut dalam suasana anarkis dan mencengkram. Peristiwa inilah yang sudah diprediksi akan muncul : puncak huru-hara.
Korban dan kerugian, kerusuhan Mei 1998 yang berlangsung selama beberapa hari telah memakan tidak sedikit korban jiwa dan materi. Dibandingkan dengan kerusuhan sebelumnya, kerusuhan Mei 1998 meupakan kerusuhan terburuk yang pernah dialami bansa Indonesia. Menurut TGPF korban meninggal dunia dan luka-luka serta hilang adalah: meninggal dunia 1.217 orang (dimana 1.190 orang diantaranya meninggal akibat terbakar), luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. Untuk orang hilang, LBH hanya mencatat 4 orang saja, sementara menurut kodam jaya, korban manusia yang jatuh pada kerusuhan Mei 1998 adalah : 456 orang perusuh dan pejarah meninggal terbakar, 4 orang mahasiswa, 3 orang aparat dan 69 orang korban luka-luka. Kodam jaya tidak mencatat korban hilang sama sekali. Selai itu TGPF juga mencatat kekerasan seksual terhadp perempuan selama kerusuhan Mei 1998, berdasarkan verifikasi terjadi 78 kasus kekerasan seksual.
Politik Pasca Kerusuhan
Para jendral pergi ke Malang, peristiwa aneh yang terjadi pada pagi hari 14 Mei 1998. Hari itu dimana kerusuhan melanda Jakarta dan sekitarnya, Panglima ABRI Jendral Wiranto memboyong jendral-jendrak penting ke Malang untuk menghadiri sebuah upacara komando pengendalian (Kodal) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari divisi I ke divisi II meskipun pasukan Kostrad, PPRC berada dibawah lansung komando Pangab. Ketika tiba di Halim, pukul enam pagi. Prabowo heran melihat sebagian jendral penting ada disana termasuk KSAD Jendral Subagyo dan Danjen Kopassus Mayjen TNI Muchdi PR. Sehari sebelumnya Prabowo menghimbau kepada Wiranto untuk membatalkan acara tersebut karena keamanan ibu kota dalam bahaya. Wiranto justru malah kepergiannya ke Malang adalah atas perintah Prabowo.
Setelah menjadi sasaran hujatan berbulan-bulan akhirnya Prabowo pergi ke Yordania umtuk menghindari rumor dan fitnah.kemudian secara tidak fair dia diberhentikan secara terhormat pada November 1998, Muchdi digantikan oleh Mayjen Sjahrit MS. Sejak saat itu semuaa orang yang berbau Prabowo disingkirkan dan dimandegkan kariernya.
Wiranto semakin kuat cengkeramannya di tubuh ABRI, semua yang dekat dengannya naik dan gelanggang mendapat posisi dan promosi. Padahal beberapa saat sebelum pengumuman kabinet Reformasi, calon kuat menhankam/ Pangab adalah Letjen TNI Hendro Priyono. Baru setahun kemudian terkuak rahasia keberhasilan Wiranto meyakinkan Habibie untuk menggeser Hendro sekaligus Prabowo.

Daftar Pustaka
• Zon Fadli : Politik Huru-Hara Mei 1998, Jakarta 2004, Institut for Policy Studies (IPS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s